Pilkada Bulukumba 2020 dan Peran Politik Milenial

Skalasulsel.com,- Tahun 2020 adalah tahun momentum politik di Kabupaten Bulukumba, dimana gema dan suar-suar komunikasi kampanye dari calon kepala daerah mulai terdengar, sayangnya pilkada kali ini kurang menghadirkan geliat diskusi tajam di tengah masyarakat karena disibukkan dengan diskusi cara bertahan hidup dari serangan pandemi covid19 yang mendominasi sampai ke pelosok desa. Sehingga media sosial menjadi cara paling efektif untuk memperkenalkan figur dan gagasan dari calon pemimpin Bulukumba kedepan.

Namun ditengah remang-remang diskusi politik, ada yang menarik perlu kita ulas dari sisi milenial yang tidak hentinya risau jika ruang fikiran tidak terasah setiap saat. Memanfaatkan media sosial ataupun pertemuan kecil dengan secangkir kopi, asa untuk Bulukumba yang lebih baik kemudian diulas dengan gagasan yang berbeda.

Adalah harapan yang begitu besar kepada generasi milenial, generasi produktif, generasi yang lahir pada tahun 90an sampai tahun 2000an, meskipun generasi milenial ini tumbuh kembang ditengah hempasan kemajuan teknologi yang begitu mempengaruhi karakter dan pribadi. Generasi ini selalu ditafsirkan elite politik sebagai generasi yang apolitis dan apatis terhadap kondisi politik dan kemajuan daerahnya, pertanyaannya apakah kondisi ini benar demikian?

Tentu ini menjadi konteks yang menarik untuk kita ulas bersama. Karena salah satu ciri milenial adalah daya kritis yang tajam dan kepedulian sosial yang begitu tinggi. Perubahan adalah kata yang paling populer dalam diskusi milenial, ini menandakan ketajaman berfikir ada pada generasi muda, bukan lagi sebagai objek politik untuk meraup suara oleh para elite politik. Sejarah perjalanan bangsa ini telah menuliskan dengan tinta emas keberhasilan kaum muda dalam berkontribusi kemajuan bangsa, mulai dari desakan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia hingga meruntuhkan rezim orde baru dan berbagai seruan-seruan persatuan yang menghempaskan segala isu SARA. Sehingga milenial Bulukumba diharapkan kembali menjadi subjek politik yang ikut andil dalam kemajuan daerah kita Bulukumba.

Jumlah pemilih milenial tidak sedikit, ini menjadi bonus demografi pada pilkada Bululumba tahun ini. Sehingga dapat kita lihat dari cara elite politik menarik perhatian dan berlomba memposisikan diri sebagai milenial, mulai dari cara berkomunikasi, pakaian yang lebih trend, dan bersikap layaknya anak muda, itu terlihat dari kesehariannya ataupun yang mewarnai panggung media sosial.

Milenial dengan karakter yang kuat akan menjadi pemimpin dimasa depan yang akan menjadi pelanjut kemajuan daerah kita. Sehingga pemuda diharapkan menjadi tonggak penyambung pada fikiran yang masih acuh terhadap kemajuan daerah kita. Karena di pundaknya banyak asa yang dititipkan. Tidak menjadi mafia politik yang fanatik terhadap kandidat karena membawa misi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. Menghentikan segala perdebatan yang tidak produktif, saling meninggikan suara ataupun saling tunjuk, kembalilah ke khittah yang telah digariskan sebagai pembawa perubahan dan mengabarkan kebenaran kepada masyarakat. Bertarung secara logis ilmiah dan rasional terkait SDA dan SDM adalah sebuah keharusan sehingga tercipta gagasan yang tepat untuk permasalahan yang terjadi di Bulukumba ini, dimana kita ketahui Bulukumba ini adalah potongan yang jatuh dari surga yang masih perlu pengelolaan inovatif untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Bangkitlah kaum muda, jadilah pelopor peradaban yang lebih baik, lawan segala bentuk money politik, berdakwalah tentang kebenaran, lawan dengan karya, hentikan perdebatan isu yang melahirkan sikap saling curiga, hal-hal destruktif yang justru membuat lemah gagasan kemajuan. Lawan segala arus negatif, rawatlah optimisme. Karena ditangan pemuda, politik akan berjalan dinamis dengan karakter luhur kearifan lokal, sehingga terciptalah Bulukumba yang kuat dan utuh.

Desa kecil dengan rimbun dedaunan, 21 Juni 2020
Penulis Irman Nur
“Pengurus Besar Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba”

Leave a Reply