Ditengah Pandemi Corona, Masyarakat Paccarammengang Sulap Tempurung Kelapa Jadi Ladang Bisnis

Foto: Tempurung yang telah dipisahkan dari sabuk kelapa dan siap diolah menjadi arang

Skalasulsel.com, BULUKUMBA- Pandemi korona telah meluluh lantahkan seluruh lapisan kehidupan masyarakat, mulai dari kehidupan masyarakat kota yang menggantungkan hidupnya pada dunia industri yang banyak mengalami penurunan produktivitas yang berujung PHK, akan tetapi juga menyentuh masyarakat desa karena lemahnya distribusi ataupun harga dari hasil pertanian.

Pohon kelapa yang merupakan tanaman zero wasted, dimana seluruh bagian bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi nilai ekonomi. Hal inilah yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat paccarammengang, limbah hasil olahan kelapa inilah yang dijadikan ladang bisnis.

Tempurung kelapa yang selama ini tidak pernah dilirik dan jadi limbah saja di kebun masyarakat, kini diolah menjadi arang batok atau tempurung kelapa kualitas ekspor sehingga bisnis ini kembali membuat perekonomian desa kembali bergairah di tengah pandemi korona yang belum pasti kapn berakhirnya.

Masyarakat mengakui adanya pemasaran arang tempurung kelapa membuat mereka senang, sebab mereka punya aktivitas yang produktif.

“Kami cukup terbantu dengan bisnis arang tempurung kelapa ini, prosesnya pun cukup mudah, hanya dipisahkan dari sabuk kelapa menggunakan alat yang sudah kami buat sendiri”. Kata Rival

Dirinya mengakui mampu memperoleh 130-150kg per hari dengan harga pasaran tempurung basah Rp 1.300 per kilogramnya. Sementara jika diolah menjadi arang harganya berkisar Rp 5.500 per kilogramnya.

Masyarakat juga berharap nantinya, pemerintah desa melalui BUMDES ataupun Karang Taruna desa mampu melihat potensi bisnis ini, sehingga SDM pada karang taruna yang kebanyakan anak muda dan terpelajar bisa berinovasi dan mencari pasar sabuk kelapa.

“Saya lihat di internet, ada banyak olahan kerajinan sabuk kelapa yang bisa menjadi niali ekonomi tinggi. Makanya kami berharap ini bisa menjadi perhatian pemerintah desa khususnya BUMDES dan Karang Taruna, karena tempurung dan sabuk kelapa besar potensinya untuk dikembangkan menjadi UMKM, serta mampu membangun perekonomian yang mandiri di desa-desa”. Tutupnya

Leave a Reply